🔹 Soal Latihan Pilihan Ganda (10 + 30 soal)
Tema: Globalisasi
dan Kebijakan Pembangunan Indonesia
A.
Soal 1
Globalisasi
menimbulkan dilema dalam kebijakan pembangunan, salah satunya adalah:
A. Pertumbuhan ekonomi nasional selalu diikuti penurunan ketimpangan sosial.
B. Peningkatan keterbukaan pasar selalu memperkuat posisi kelompok marginal.
C. Pertumbuhan dapat tercapai, tetapi berisiko meningkatkan ketimpangan.
D. Negara berkembang sepenuhnya bebas dari pengaruh rezim perdagangan
internasional.
Jawaban: C
Penjelasan: Salah satu isu utama globalisasi adalah pertumbuhan ekonomi
sering diiringi ketimpangan (growth vs inequality).
Soal 2
Dalam menghadapi rezim
global, Indonesia cenderung menggunakan strategi:
A. Delinking penuh dari pasar global.
B. Selective compliance dan play with the rules.
C. Mengabaikan aturan WTO demi kedaulatan ekonomi.
D. Pasif dan hanya mengikuti tekanan negara maju.
Jawaban: B
Penjelasan: Indonesia kombinasi antara compliance (ikut komitmen
iklim, SDGs) dan play with the rules (hilirisasi nikel meski digugat
WTO).
Soal 3
Contoh nyata pengaruh norma
global terhadap kebijakan pembangunan Indonesia adalah:
A. Program bansos untuk pengentasan kemiskinan.
B. Pembangunan MRT dan elektrifikasi bus kota sebagai dukungan komitmen Paris
Agreement.
C. Subsidi BBM untuk menjaga daya beli masyarakat.
D. Penundaan proyek IKN karena keterbatasan APBN.
Jawaban: B
Penjelasan: Norma global terkait iklim mendorong Indonesia membangun
transportasi publik rendah emisi.
Soal 4
Dalam konteks
pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), salah satu risiko globalisasi yang harus
diantisipasi perencana adalah:
A. Tidak adanya minat investor asing.
B. Marginalisasi masyarakat lokal akibat arus modal dan pendatang.
C. Hilangnya peluang kerja bagi tenaga kerja asing.
D. Penurunan standar global tata kelola kota.
Jawaban: B
Penjelasan: Globalisasi berisiko menimbulkan polarisasi sosial antara
masyarakat lokal vs pendatang/investor.
Soal 5
Kebijakan hilirisasi
mineral Indonesia yang digugat di WTO mencerminkan strategi:
A. Compliance penuh.
B. Play with the rules untuk memperkuat industri domestik.
C. Delinking permanen.
D. Penolakan terhadap industrialisasi global.
Jawaban: B
Penjelasan: Indonesia tetap mendorong hilirisasi dengan memanfaatkan
celah aturan global demi daya saing industri.
Soal 6
Menurut dokumen
Gabriel Lele, salah satu mekanisme globalisasi yang memengaruhi kebijakan
domestik adalah:
A. Kebijakan berbasis musyawarah desa.
B. Interdependensi pasar dan aliran modal.
C. Pemutusan hubungan dagang sepihak.
D. Penolakan terhadap institusi internasional.
Jawaban: B
Penjelasan: Globalisasi berpengaruh melalui interdependensi pasar, aturan
internasional, norma global, dan infiltrasi kebijakan.
Soal 7
Dalam RPJPN 2025–2045,
salah satu fokus pembangunan yang erat kaitannya dengan globalisasi adalah:
A. Industrialisasi berbasis hilirisasi SDA dan daya saing global.
B. Isolasi pasar domestik dari perdagangan internasional.
C. Ketergantungan penuh pada investasi asing.
D. Penghapusan peran teknologi dalam pembangunan.
Jawaban: A
Penjelasan: RPJPN menekankan hilirisasi SDA, transformasi industri, dan
integrasi ke pasar global.
Soal 8
Untuk memastikan
pembangunan inklusif di era globalisasi, perencana harus:
A. Hanya menghitung manfaat ekonomi makro.
B. Mengabaikan dampak sosial lokal karena dianggap minor.
C. Melakukan Social Impact Assessment (SIA) pada proyek besar.
D. Memusatkan pembangunan pada investor asing.
Jawaban: C
Penjelasan: SIA penting agar pembangunan tidak menimbulkan marginalisasi
masyarakat lokal.
Soal 9
Dalam perencanaan
pembangunan berkelanjutan, mengintegrasikan Paris Agreement dan Net
Zero 2060 berarti:
A. Memperkuat proyek berbasis energi fosil.
B. Memprioritaskan pembangunan rendah emisi dan transportasi ramah lingkungan.
C. Mengurangi fokus pada sektor energi terbarukan.
D. Meninggalkan standar global dan hanya mengikuti kebutuhan domestik.
Jawaban: B
Penjelasan: Paris Agreement mendorong transisi energi & pembangunan
rendah karbon.
Soal 10
Kapabilitas utama yang
harus diperkuat pejabat perencana Indonesia dalam menghadapi globalisasi
adalah:
A. Kemampuan administratif rutin.
B. Adaptive capacity berupa SDM, institusi, modal politik, dan pemanfaatan ICT.
C. Ketergantungan pada bantuan teknis asing.
D. Pemisahan total dari norma global.
Jawaban: B
Penjelasan: Dokumen menekankan pentingnya adaptive capacity agar
kebijakan nasional tangguh menghadapi tekanan global.
B.
Soal 1
Globalisasi dapat dipahami sebagai proses…
A. Integrasi politik saja
B. Integrasi ekonomi, politik, sosial, dan teknologi lintas negara
C. Isolasi budaya antar-bangsa
D. Pemisahan kepentingan nasional dari kepentingan global
Jawaban: B – Globalisasi mencakup integrasi
multi-dimensi.
Soal 2
Kontroversi utama dalam globalisasi antara lain:
A. Negara vs Pasar, Utara vs Selatan, Globalisme vs Nasionalisme
B. Demokrasi vs Otoritarianisme
C. Desa vs Kota
D. Tradisi vs Modernitas
Jawaban: A – Dokumen menyebut lima kutub debat utama
termasuk state–market, utara–selatan.
Soal 3
Mekanisme pengaruh globalisasi terhadap kebijakan publik salah satunya adalah:
A. Politik adu domba antarnegara
B. Interdependensi pasar global
C. Otarki ekonomi lokal
D. Revolusi industri nasional
Jawaban: B – Globalisasi memengaruhi lewat keterhubungan
pasar dan modal.
Soal 4
Konsep compliance dalam strategi negara menghadapi rezim global berarti…
A. Menolak seluruh aturan internasional
B. Mengikuti aturan global baik defensif maupun ofensif
C. Membatasi perdagangan domestik
D. Mengandalkan bantuan donor
Jawaban: B – Compliance adalah mengikuti aturan global,
dengan variasi strategi.
Soal 5
Delinking sebagai strategi menghadapi globalisasi biasanya dilakukan
dengan tujuan:
A. Meningkatkan ketergantungan modal asing
B. Memutus hubungan dengan rezim global demi kedaulatan
C. Mempercepat integrasi global
D. Menurunkan daya saing
Jawaban: B – Delinking = memutus ketergantungan, walau
berisiko tinggi.
Soal 6
Norma global yang paling berpengaruh terhadap pembangunan saat ini adalah:
A. Good governance, gender, dan lingkungan
B. Nasionalisme etnis
C. Sosialisasi lokal
D. Perdagangan informal
Jawaban: A – Tiga norma utama yang dipromosikan rezim
global.
Soal 7
Salah satu akibat dari globalisasi adalah policy convergence. Artinya…
A. Kebijakan publik makin beragam antarnegara
B. Kebijakan publik cenderung menyerupai standar global
C. Kebijakan publik hanya berbasis adat lokal
D. Negara bebas tanpa aturan
Jawaban: B – Konvergensi kebijakan mengikuti
norma/standar global.
Soal 8
Mengapa globalisasi disebut sebagai pedang bermata dua?
A. Karena hanya menguntungkan negara maju
B. Karena memberi peluang sekaligus risiko bagi negara berkembang
C. Karena hanya berhubungan dengan pasar tenaga kerja
D. Karena identik dengan kolonialisme
Jawaban: B – Globalisasi membuka peluang dan risiko
bersamaan.
Soal 9
Institusi internasional seperti WTO dan ILO memengaruhi Indonesia melalui…
A. Adopsi aturan perdagangan & ketenagakerjaan global
B. Dukungan sosial budaya lokal
C. Penetapan harga bahan pokok
D. Otonomi daerah
Jawaban: A – Institusi global mengikat aturan yang
memengaruhi kebijakan domestik.
Soal 10
Adaptive capacity dalam konteks kebijakan publik berarti…
A. Kemampuan administrasi rutin
B. Kapasitas negara untuk menyesuaikan diri dengan tekanan global melalui SDM,
organisasi, politik, finansial, institusi, ICT
C. Kemampuan memperbanyak regulasi
D. Pengurangan peran masyarakat sipil
Jawaban: B – Adaptive capacity = kapasitas negara agar
tangguh.
Klaster 2:
Keterkaitan Globalisasi & Pembangunan Indonesia
Soal 11
Dalam RPJPN 2025–2045, globalisasi terkait langsung dengan strategi…
A. Hilirisasi SDA dan penguatan daya saing industri
B. Isolasi pasar domestik
C. Mengurangi ekspor dan impor
D. Penutupan diri dari investasi asing
Jawaban: A – Strategi utama RPJPN adalah hilirisasi untuk
pasar global.
Soal 12
Hilirisasi nikel Indonesia yang digugat di WTO adalah contoh strategi:
A. Compliance penuh
B. Play with the rules
C. Delinking total
D. Liberalization
Jawaban: B – Indonesia memanfaatkan aturan global untuk
tetap melindungi industri.
Soal 13
Pembangunan MRT Jakarta dan Transjakarta listrik merupakan respon terhadap:
A. Norma global Paris Agreement
B. Kebijakan ekonomi proteksionis
C. Penolakan SDGs
D. Otonomi daerah
Jawaban: A – Infrastruktur rendah karbon mendukung
komitmen iklim global.
Soal 14
Risiko sosial dari investasi global di kawasan industri/IKN adalah:
A. Meningkatnya isolasi daerah
B. Marginalisasi masyarakat lokal
C. Hilangnya standar internasional
D. Berkurangnya urbanisasi
Jawaban: B – Masyarakat lokal rawan terpinggirkan.
Soal 15
Dalam kebijakan pangan, globalisasi dapat memengaruhi Indonesia melalui…
A. Fluktuasi harga impor beras/soya
B. Dukungan investasi lokal saja
C. Penurunan teknologi pertanian
D. Menutup akses perdagangan
Jawaban: A – Harga pangan lokal sensitif terhadap pasar
global.
Soal 16
Kebijakan subsidi BBM meski dikritik lembaga global menunjukkan strategi:
A. Compliance total
B. Play with the rules
C. Delinking parsial demi stabilitas nasional
D. Tidak mengikuti RPJPN
Jawaban: C – Indonesia sesekali memilih delinking untuk
jaga stabilitas.
Soal 17
Norma ESG (Environmental, Social, Governance) berpengaruh pada…
A. Investasi asing dan pembangunan hijau
B. Isolasi ekonomi domestik
C. Penutupan pasar modal
D. Penurunan peran ICT
Jawaban: A – ESG menjadi syarat penting investasi global.
Soal 18
Transformasi digital Indonesia selaras dengan globalisasi karena…
A. Standar ICT global harus diadopsi
B. Semua teknologi harus lokal
C. Internet hanya untuk birokrasi
D. Data bebas tanpa regulasi
Jawaban: A – Transformasi digital menuntut adaptasi
standar global.
Soal 19
Pembangunan berkelanjutan di Indonesia harus selaras dengan:
A. SDGs dan Paris Agreement
B. Hanya kepentingan lokal
C. Kebijakan donor bilateral
D. Agenda non-pemerintah
Jawaban: A – Indonesia komitmen pada SDGs & Paris
Agreement.
Soal 20
Dalam RPJMN 2025–2029, isu global yang harus masuk perencanaan adalah:
A. Inovasi, inklusivitas, keberlanjutan, dan pemerataan wilayah
B. Isolasi pasar domestik
C. Pengurangan SDM berpendidikan
D. Penolakan teknologi digital
Jawaban: A – RPJMN 2025–2029 menekankan empat pilar utama
ini.
Klaster 3: Aplikasi
Praktis & Studi Kasus
Soal 21
Jika proyek pelabuhan internasional berpotensi menggusur nelayan, perencana
wajib menyiapkan:
A. Analisis biaya-manfaat saja
B. Social Impact Assessment
C. Rencana isolasi pasar
D. Standar internasional maritim saja
Jawaban: B – SIA penting agar pembangunan inklusif.
Soal 22
Checklist penting dalam proyek infrastruktur globalisasi:
A. Dampak ketimpangan, kepatuhan standar internasional, mitigasi sosial,
transfer teknologi
B. Hanya biaya APBN
C. Hanya koordinasi antar-menteri
D. Aspek politik lokal
Jawaban: A – Semua elemen masuk checklist kebijakan
global.
Soal 23
Dalam menghadapi perubahan harga minyak dunia, kebijakan energi Indonesia
harus:
A. Memutus diri dari pasar global
B. Memperkuat diversifikasi energi terbarukan
C. Hanya bergantung pada PLTU
D. Mengabaikan Paris Agreement
Jawaban: B – Diversifikasi energi adalah respon tepat.
Soal 24
Proyek Smart Port Tanjung Priok relevan dengan globalisasi karena:
A. Menggunakan IoT, blockchain, dan green logistics sesuai standar global
B. Mengurangi peran internasional
C. Meningkatkan isolasi digital
D. Menolak teknologi asing
Jawaban: A – Smart port adalah adaptasi global ICT.
Soal 25
Jika perencana ingin mengantisipasi risiko global, ia perlu melakukan:
A. Global Risk Analysis dalam setiap proyek besar
B. Mengabaikan faktor internasional
C. Fokus ke administrasi saja
D. Menghapus keterlibatan swasta
Jawaban: A – Global risk analysis penting.
Soal 26
Dalam perencanaan pembangunan wilayah perbatasan, faktor globalisasi yang
paling menonjol adalah:
A. Perdagangan lintas batas & keamanan maritim
B. Isolasi masyarakat lokal
C. Penolakan kerjasama regional
D. Hanya aspek budaya
Jawaban: A – Globalisasi menekankan keterhubungan
perbatasan.
Soal 27
Penguatan SDM perencana di era globalisasi harus meliputi:
A. Bahasa pembangunan global (SDGs, ESG, green growth)
B. Administrasi tradisional
C. Hanya aspek lokal
D. Penolakan terhadap teknologi
Jawaban: A – SDM harus menguasai bahasa global
pembangunan.
Soal 28
Koordinasi penting dalam menghadapi globalisasi melibatkan:
A. Pusat–daerah, swasta, dan masyarakat
B. Hanya kementerian pusat
C. Investor asing saja
D. Birokrasi daerah saja
Jawaban: A – Koordinasi lintas aktor kunci.
Soal 29
Untuk menjaga kedaulatan data di era globalisasi digital, Indonesia harus…
A. Menegakkan UU Perlindungan Data Pribadi (PDP)
B. Membebaskan semua data untuk asing
C. Melarang ICT
D. Hanya gunakan data manual
Jawaban: A – UU PDP penting menjaga kedaulatan digital.
Soal 30
Sebagai perencana ahli madya, ketika menghadapi investasi global, langkah utama
adalah:
A. Pastikan sejalan dengan RPJMN & RPJPN serta mitigasi dampak globalisasi
B. Hanya ikuti permintaan investor
C. Mengabaikan norma global
D. Fokus pada keuntungan jangka pendek
Jawaban: A – Perencana wajib menjaga sinkronisasi kebijakan
jangka panjang dan mitigasi risiko global.
🔹 Soal Esai Latihan Analisis Kasus + Jawaban Model - Tema: Globalisasi & Kebijakan Pembangunan Indonesia (5 + 10 soal)
A.
Esai 1 – Hilirisasi
Nikel dan Gugatan WTO
Soal:
Indonesia melarang ekspor nikel mentah untuk mendorong hilirisasi industri,
namun kebijakan ini digugat oleh Uni Eropa di WTO. Analisislah strategi
Indonesia dari perspektif compliance vs play with the rules! Apa
risiko dan peluang kebijakan ini bagi pembangunan nasional?
Jawaban Model:
Strategi hilirisasi nikel Indonesia lebih dekat pada pola play with the
rules. Indonesia tetap anggota WTO, tetapi menafsirkan aturan perdagangan
internasional secara fleksibel untuk memperkuat industri domestik. Ini bukan
bentuk delinking, melainkan upaya menjaga ruang kebijakan (policy
space).
Risikonya: Indonesia
bisa menghadapi sanksi dagang jika kalah gugatan, dan iklim investasi
berpotensi terganggu. Namun peluangnya jauh lebih besar, yaitu meningkatnya
nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, dan perkuatan posisi Indonesia dalam
rantai pasok global energi hijau (baterai listrik, EV).
Dengan demikian,
kebijakan ini sejalan dengan RPJPN 2025–2045 yang menekankan hilirisasi SDA.
Namun perencana harus menyiapkan mitigasi, misalnya: diversifikasi pasar
ekspor, kerja sama teknologi dengan mitra non-Eropa, dan peningkatan good
governance agar hilirisasi tidak sekadar proteksi, tetapi benar-benar
menghasilkan daya saing global.
Esai 2 – Ibu Kota
Nusantara (IKN) dan Investasi Global
Soal:
IKN diproyeksikan menarik investasi global besar-besaran. Namun, ada
kekhawatiran marginalisasi masyarakat lokal dan adat. Sebagai perencana,
bagaimana Anda merancang strategi pembangunan IKN agar inklusif sekaligus
selaras dengan norma global ESG?
Jawaban Model:
IKN adalah proyek berskala global yang sekaligus menjadi etalase Indonesia di
dunia. Globalisasi menghadirkan peluang berupa masuknya investasi asing,
teknologi smart city, dan jaringan kerja internasional. Namun, tantangan terbesarnya
adalah bagaimana masyarakat lokal tidak terpinggirkan.
Perencana dapat
mengintegrasikan Social Impact Assessment (SIA) ke dalam rencana tata
ruang dan pembangunan IKN. Program resettlement atau kompensasi bagi
masyarakat terdampak harus transparan, partisipatif, dan sesuai standar Environmental,
Social, Governance (ESG). Selain itu, pengembangan pendidikan dan pelatihan
kerja bagi masyarakat lokal penting agar mereka bisa masuk ke rantai ekonomi
baru IKN.
Dengan demikian,
pembangunan IKN bisa menjadi contoh inclusive global city — sejalan
dengan norma global dan sekaligus menjaga legitimasi sosial di tingkat
nasional.
Esai 3 – Transisi
Energi dan Globalisasi Norma Iklim
Soal:
Indonesia berkomitmen mencapai Net Zero Emission 2060, tetapi masih
banyak PLTU batubara yang beroperasi. Jelaskan dilema kebijakan ini dalam
konteks globalisasi, dan usulkan langkah transisi energi yang realistis.
Jawaban Model:
Dilema utama adalah tarik-menarik antara kebutuhan energi murah (batubara)
dengan norma global yang menuntut transisi energi bersih sesuai Paris
Agreement. Globalisasi menciptakan tekanan kuat dari lembaga keuangan
internasional untuk mengurangi PLTU, sementara di sisi lain, kebutuhan energi
nasional masih tinggi untuk menopang pertumbuhan.
Langkah realistis
adalah transisi bertahap melalui kebijakan Just Energy Transition
Partnership (JETP). Indonesia dapat menegosiasikan pembiayaan hijau dan
transfer teknologi untuk mempercepat pensiun dini PLTU. Pada saat yang sama,
investasi besar diarahkan ke energi terbarukan (surya, hidro, panas bumi) dan
elektrifikasi transportasi.
Dengan pendekatan ini,
Indonesia tetap menjaga kepatuhan global (compliance), namun juga
mempertahankan stabilitas ekonomi dan sosial. Perencana harus memastikan
roadmap transisi energi masuk dalam RPJMN dan disertai analisis risiko
global-lokal.
Esai 4 – Krisis
Pangan Global
Soal:
Krisis pangan akibat perang Rusia–Ukraina membuat harga gandum dan kedelai
melonjak di Indonesia. Bagaimana perencana pembangunan harus merespons fenomena
global ini dalam kebijakan nasional?
Jawaban Model:
Krisis pangan global menunjukkan kerentanan Indonesia terhadap pasar
internasional. Globalisasi menciptakan food interdependence, sehingga
gangguan di satu kawasan langsung berdampak pada stabilitas pangan nasional.
Perencana harus
mendorong kebijakan ketahanan pangan yang mengurangi ketergantungan pada
impor bahan pokok tertentu. Contohnya, substitusi gandum dengan pangan lokal
(sorgum, sagu, singkong) dan investasi pada teknologi pertanian modern. Di sisi
lain, diplomasi perdagangan perlu diperkuat agar rantai pasok impor tetap
terjaga.
Kebijakan ini sejalan
dengan agenda kedaulatan pangan RPJPN, sekaligus menjawab tantangan globalisasi
dengan memperkuat basis domestik.
Esai 5 – Digitalisasi
dan Kedaulatan Data
Soal:
Transformasi digital (smart city, smart port) menuntut penggunaan IoT dan big
data, namun ada risiko kebocoran data. Bagaimana menyeimbangkan kebutuhan
adopsi standar ICT global dengan perlindungan kedaulatan data nasional?
Jawaban Model:
Globalisasi teknologi mendorong Indonesia mengadopsi standar ICT internasional
agar dapat bersaing. Namun, hal ini membawa risiko keamanan siber dan kebocoran
data strategis.
Perencana harus
menekankan pembangunan digital yang dual track: (1) adopsi standar
global IoT, blockchain, AI, untuk meningkatkan efisiensi dan integrasi; (2)
penguatan kedaulatan data nasional melalui implementasi UU Perlindungan Data
Pribadi (PDP), pembangunan pusat data nasional, dan peningkatan literasi
digital.
Dengan demikian,
Indonesia tetap kompetitif di pasar global, tetapi sekaligus menjaga keamanan
dan kedaulatan nasional di bidang digital.
B.
Esai 1 – Hilirisasi
Nikel dan Gugatan WTO
Soal:
Indonesia melarang ekspor nikel mentah untuk mendorong hilirisasi industri,
namun kebijakan ini digugat oleh Uni Eropa di WTO. Analisislah strategi
Indonesia dari perspektif compliance vs play with the rules! Apa
risiko dan peluang kebijakan ini bagi pembangunan nasional?
Jawaban Model:
Kebijakan hilirisasi nikel adalah bentuk play with the rules. Indonesia
tetap anggota WTO tetapi menggunakan ruang kebijakan untuk memperkuat industri
domestik. Risiko yang dihadapi adalah sanksi perdagangan bila kalah di WTO dan
potensi terganggunya iklim investasi. Namun, peluangnya lebih besar:
peningkatan nilai tambah, lapangan kerja, dan posisi strategis dalam rantai
pasok global baterai listrik.
Perencana harus
menyiapkan mitigasi, seperti diversifikasi pasar ekspor, diplomasi dagang lebih
agresif, dan peningkatan efisiensi industri dalam negeri. Dengan demikian,
kebijakan hilirisasi tetap selaras dengan RPJPN 2025–2045.
Esai 2 – IKN dan
Investasi Global
Soal:
IKN diproyeksikan menarik investasi global besar-besaran. Namun, ada
kekhawatiran marginalisasi masyarakat lokal dan adat. Sebagai perencana,
bagaimana Anda merancang strategi pembangunan IKN agar inklusif sekaligus selaras
dengan norma global ESG?
Jawaban Model:
IKN adalah showcase global, sehingga perlu memadukan norma ESG dengan
perlindungan sosial. Strateginya: integrasikan Social Impact Assessment
ke dalam perencanaan, pastikan mekanisme kompensasi dan relokasi transparan,
serta program pelatihan agar masyarakat lokal dapat masuk ke sektor ekonomi
baru IKN.
Pendekatan ini menjaga
legitimasi sosial domestik sekaligus memenuhi standar global investasi
berkelanjutan.
Esai 3 – Transisi
Energi dan Globalisasi Norma Iklim
Soal:
Indonesia berkomitmen Net Zero 2060, tetapi masih banyak PLTU batubara
beroperasi. Jelaskan dilema kebijakan ini dalam konteks globalisasi, dan
usulkan langkah transisi energi yang realistis.
Jawaban Model:
Dilema muncul antara kebutuhan energi murah untuk pertumbuhan dengan tuntutan
global mengurangi emisi. Globalisasi memberi tekanan melalui Paris Agreement
dan lembaga donor, tetapi kebutuhan domestik tetap tinggi.
Langkah realistis:
manfaatkan Just Energy Transition Partnership (JETP) untuk pembiayaan
hijau, lakukan pensiun dini PLTU bertahap, dan percepat investasi di energi
terbarukan (panas bumi, surya, hidro). Dengan demikian, Indonesia bisa tetap
patuh norma global sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.
Esai 4 – Krisis
Pangan Global
Soal:
Krisis pangan akibat perang Rusia–Ukraina membuat harga gandum dan kedelai
melonjak di Indonesia. Bagaimana perencana pembangunan harus merespons fenomena
global ini dalam kebijakan nasional?
Jawaban Model:
Perencana harus menyadari ketergantungan pangan global. Respons kebijakan
meliputi substitusi pangan impor dengan pangan lokal (sagu, singkong, sorgum),
peningkatan produktivitas pertanian melalui teknologi, dan diversifikasi sumber
impor.
Diplomasi perdagangan
internasional juga penting untuk mengamankan rantai pasok. Dengan demikian,
ketahanan pangan nasional lebih tangguh menghadapi guncangan global.
Esai 5 –
Digitalisasi dan Kedaulatan Data
Soal:
Transformasi digital (smart city, smart port) menuntut penggunaan IoT dan big
data, namun ada risiko kebocoran data. Bagaimana menyeimbangkan kebutuhan
adopsi standar ICT global dengan perlindungan kedaulatan data nasional?
Jawaban Model:
Strateginya adalah dual track: (1) adopsi teknologi global (IoT, AI,
blockchain) agar sistem transportasi dan logistik modern, (2) memperkuat
perlindungan data nasional melalui UU PDP, pembangunan data center
nasional, dan regulasi keamanan siber.
Dengan keseimbangan
ini, Indonesia bisa tetap kompetitif secara global tanpa mengorbankan
kedaulatan digital.
Esai 6 – Konsesi
Pelabuhan dengan Investor Asing
Soal:
Sebuah pelabuhan strategis ditawarkan melalui konsesi kepada investor asing.
Analisis kelebihan dan kekurangannya dari perspektif globalisasi, serta
rekomendasi agar kepentingan nasional tetap terlindungi.
Jawaban Model:
Kelebihan: masuknya modal, teknologi, dan manajemen modern. Kekurangan: risiko
ketergantungan, potensi revenue leakage, dan pengabaian kepentingan
lokal.
Rekomendasi: kontrak
konsesi harus memuat klausul transfer teknologi, porsi kepemilikan negara, dan
kewajiban CSR bagi masyarakat sekitar. Hal ini menjaga keseimbangan antara
integrasi global dan kedaulatan nasional.
Esai 7 – Perubahan
Iklim dan Kota Pesisir
Soal:
Kenaikan muka laut akibat perubahan iklim global mengancam kota-kota pesisir di
Indonesia. Bagaimana perencana ahli madya harus mengintegrasikan isu ini dalam
RPJMN dan RPJPN?
Jawaban Model:
Isu perubahan iklim harus menjadi mainstream dalam rencana pembangunan.
Caranya: memasukkan mitigasi bencana pesisir, pembangunan infrastruktur tanggul
hijau, relokasi terencana, serta perkuatan tata ruang berbasis climate
resilience.
Hal ini selaras dengan
agenda global SDGs (Goal 13: Climate Action) dan meningkatkan kredibilitas
Indonesia dalam diplomasi iklim.
Esai 8 – Kawasan Industri
dan Nelayan Lokal
Soal:
Proyek kawasan industri di Sulawesi menyerap investasi besar, tetapi menggusur
ribuan nelayan. Rancanglah kerangka analisis sosial-ekonomi yang harus
dilakukan perencana agar kebijakan tetap inklusif.
Jawaban Model:
Kerangka analisis: (1) pemetaan dampak sosial-ekonomi (pendapatan, akses laut,
budaya), (2) rencana mitigasi seperti kompensasi, pelatihan kerja, atau program
livelihood alternatif, (3) monitoring & evaluasi berbasis partisipasi
masyarakat.
Dengan kerangka ini, proyek
tetap berjalan namun hak-hak masyarakat lokal terlindungi.
Esai 9 – Adaptive
Capacity Indonesia
Soal:
Globalisasi menuntut negara membangun adaptive capacity. Jelaskan apa
yang dimaksud dengan adaptive capacity dalam konteks Indonesia, lalu
beri contoh langkah nyata yang bisa dilakukan perencana di tingkat nasional dan
daerah.
Jawaban Model:
Adaptive capacity adalah kemampuan negara menyesuaikan diri dengan
tekanan global melalui SDM, kelembagaan, finansial, politik, dan ICT.
Di tingkat nasional: perkuat
pelatihan aparatur tentang SDGs, ESG, dan data global. Di tingkat daerah:
dorong pemanfaatan digitalisasi (GIS, big data) untuk perencanaan wilayah dan
ketahanan pangan lokal.
Esai 10 – Smart
Port dan Standar Global
Soal:
Indonesia mengembangkan Smart Port di Tanjung Priok dan Belawan dengan IoT dan
blockchain. Analisislah keuntungan dan tantangan kebijakan ini dalam konteks
globalisasi.
Jawaban Model:
Keuntungan: efisiensi logistik, integrasi rantai pasok global, peningkatan daya
saing. Tantangan: kebutuhan investasi besar, risiko keamanan data, dan potensi
ketimpangan dengan pelabuhan kecil.
Perencana harus
memastikan roadmap Smart Port juga mencakup capacity building pelabuhan
menengah dan daerah agar tidak tercipta kesenjangan digital.
No comments:
Post a Comment