π 30 Soal Latihan Pilihan Ganda
1.
Fasilitasi dalam
konteks pembangunan berarti…
A. Memberikan informasi teknis kepada masyarakat
B. Membuat proses perencanaan lebih mudah dipahami dan partisipatif
C. Mengarahkan masyarakat pada keputusan yang ditetapkan pemerintah
D. Menyampaikan hasil musyawarah kepada DPR
✅ Jawaban: B
π Fasilitasi bukan sekadar memberi informasi,
tetapi mempermudah proses partisipasi masyarakat dalam perencanaan.
2.
Kata facilitation
berasal dari bahasa Latin facile, yang berarti…
A. Cepat
B. Mudah
C. Pintar
D. Terarah
✅ Jawaban: B
π Facile berarti “mudah”. Fasilitasi
adalah proses membuat sesuatu lebih mudah.
3.
Menurut Paulo Freire,
pendidikan orang dewasa dalam fasilitasi berbasis pada…
A. Ceramah satu arah
B. Realitas kehidupan dan problem posing
C. Pengetahuan formal akademik
D. Instruksi teknis pemerintah
✅ Jawaban: B
π Freire menekankan pendekatan problem posing:
menghadapkan peserta pada masalah nyata dan mencari solusi bersama.
4.
Musrenbang sebagai
forum perencanaan partisipatif diatur dalam…
A. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara
B. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
C. UU No. 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah
D. Perpres No. 18/2020 tentang RPJMN
✅ Jawaban: B
π UU 25/2004 adalah dasar hukum utama SPPN,
termasuk mekanisme Musrenbang.
5.
Fasilitasi berbeda
dengan mengajar karena…
A. Fasilitasi selalu dilakukan di desa
B. Fasilitasi hanya dilakukan oleh akademisi
C. Fasilitasi memposisikan peserta sebagai subjek, bukan objek
D. Fasilitasi selalu menghasilkan kebijakan formal
✅ Jawaban: C
π Fasilitasi menekankan peran aktif peserta
sebagai subjek yang berdaya.
6.
Prinsip utama
fasilitasi dalam perencanaan pembangunan adalah…
A. Kontrol penuh pemerintah
B. Partisipasi, keterbukaan, kesetaraan, kreativitas, dan tujuan bersama
C. Efisiensi waktu dan anggaran
D. Hanya melibatkan pihak yang berwenang
✅ Jawaban: B
π Prinsip fasilitasi: partisipasi, keterbukaan,
kesetaraan, kreativitas, tujuan bersama.
7.
Dalam Musrenbang,
teknik Metaplan digunakan untuk…
A. Membuat presentasi PowerPoint
B. Mengelompokkan ide-ide masyarakat secara visual
C. Menyusun APBD
D. Membuat laporan evaluasi
✅ Jawaban: B
π Metaplan adalah teknik mengumpulkan ide dengan
sticky notes/kartu, lalu dikelompokkan.
8.
Round Robin dalam FGD
bertujuan untuk…
A. Memilih prioritas program pembangunan
B. Memberi kesempatan semua peserta bicara secara bergiliran
C. Membuat simulasi kebijakan
D. Membuat notulen diskusi
✅ Jawaban: B
π Round Robin menjamin semua peserta bicara,
tidak hanya yang vokal.
9.
Gallery Walk sebagai
teknik fasilitasi dilakukan dengan…
A. Peserta menulis ide di papan lalu berjalan melihat hasil kelompok lain
B. Fasilitator menjelaskan kebijakan dengan slide
C. Membuat skenario pembangunan
D. Menghitung hasil voting prioritas
✅ Jawaban: A
π Gallery Walk membuat diskusi lebih dinamis
dengan pameran ide di dinding.
10.
Fishbone Diagram
(Ishikawa) digunakan untuk…
A. Mengurutkan prioritas program
B. Mengidentifikasi akar penyebab suatu masalah
C. Mengukur capaian kinerja pembangunan
D. Membuat bagan organisasi pembangunan
✅ Jawaban: B
π Fishbone membantu mengurai faktor penyebab
masalah utama.
11.
Dalam konteks SDGs,
fasilitasi penting untuk memastikan prinsip…
A. Growth first
B. No one left behind
C. Efficiency only
D. Centralized policy
✅ Jawaban: B
π SDGs menekankan inklusivitas: no one left
behind.
12.
Kebijakan pembangunan
inklusif dalam RPJMN 2025–2029 mengharuskan fasilitasi agar…
A. Semua kelompok masyarakat dilibatkan dalam perencanaan
B. Dokumen teknis lebih cepat disusun
C. APBN lebih mudah dikontrol
D. Pengawasan dilakukan oleh pusat saja
✅ Jawaban: A
π Pembangunan inklusif menuntut partisipasi
seluruh lapisan masyarakat.
13.
Manfaat fasilitasi
dalam Musrenbang adalah…
A. Mengurangi biaya perencanaan
B. Menjamin keterlibatan dan rasa memiliki masyarakat
C. Menghapus peran pemerintah
D. Menggantikan analisis teknokratis
✅ Jawaban: B
π Fasilitasi menciptakan ownership
masyarakat atas program pembangunan.
14.
Musrenbang tematik
yang dilaksanakan di beberapa daerah bertujuan untuk…
A. Mempercepat proses penganggaran
B. Memastikan kelompok rentan ikut terlibat
C. Membatasi peserta rapat
D. Menyederhanakan birokrasi
✅ Jawaban: B
π Musrenbang tematik memberi ruang partisipasi
kelompok rentan (perempuan, anak, difabel).
15.
Dalam sosialisasi
kebijakan, storytelling efektif karena…
A. Lebih cepat selesai
B. Mengurangi biaya cetak dokumen
C. Membuat pesan lebih mudah dipahami masyarakat
D. Menekankan jargon teknokratis
✅ Jawaban: C
π Storytelling menyampaikan kebijakan dengan
cara yang mudah dipahami.
16.
Salah satu peran
penting fasilitator dalam perencanaan pembangunan adalah…
A. Membuat keputusan akhir program
B. Memastikan suara semua pihak terdengar
C. Menentukan alokasi anggaran pusat
D. Menyusun Perpres
✅ Jawaban: B
π Fasilitator menjamin proses inklusif dan
partisipatif.
17.
Alat bantu seperti
sticky notes, spidol warna, dan papan tulis dalam fasilitasi berfungsi untuk…
A. Administrasi rapat
B. Dokumentasi visual yang memperjelas ide
C. Pengganti laporan resmi
D. Kontrol peserta rapat
✅ Jawaban: B
π Alat bantu visual membantu ide lebih jelas dan
mudah dipahami bersama.
18.
Tanpa fasilitasi,
Musrenbang berisiko menjadi…
A. Forum formalitas tanpa partisipasi nyata
B. Forum yang efisien dan inklusif
C. Ajang evaluasi kebijakan pusat
D. Forum yang hanya fokus teknis
✅ Jawaban: A
π Banyak Musrenbang hanya formalitas jika tanpa
fasilitasi partisipatif.
19.
Fasilitasi dalam
mitigasi bencana membantu masyarakat untuk…
A. Menunggu instruksi pusat
B. Mengenali risiko dan menyusun rencana lokal
C. Menyusun APBN
D. Membuat RPJPN
✅ Jawaban: B
π Fasilitasi memungkinkan masyarakat mengenali
risiko dan menyusun rencana mitigasi.
20.
Appreciative Inquiry
dalam fasilitasi menekankan pada…
A. Mencari masalah utama
B. Menggali potensi dan kekuatan masyarakat
C. Menetapkan target teknokratis
D. Membatasi partisipasi
✅ Jawaban: B
π Appreciative Inquiry fokus pada
kekuatan/potensi yang dimiliki masyarakat.
(➡️ lanjut
sampai soal ke-30 dengan format serupa)
π Mau saya lanjutkan soal 21–30 langsung
sekarang, agar paketnya lengkap 30 soal, atau Anda ingin saya berhenti dulu di
sini untuk dicek apakah model soal seperti ini sudah sesuai dengan harapan
Anda?
Oke, kita lanjutkan
ya. Berikut soal nomor 21–30 dengan format pilihan ganda, jawaban benar,
dan penjelasan singkat.
21.
Mengapa fasilitasi
penting dalam konteks Satu Data Indonesia?
A. Karena semua data sudah tersedia lengkap
B. Agar masyarakat ikut memahami, memberi masukan, dan menggunakan data
C. Supaya proses digitalisasi lebih cepat
D. Untuk menggantikan peran analis data
✅ Jawaban: B
π Satu Data Indonesia bukan hanya soal
sistem, tapi juga bagaimana data digunakan partisipatif oleh masyarakat dan
pemerintah daerah.
22.
Dalam sosialisasi
kebijakan, role play/simulasi dipakai untuk…
A. Menguji peserta tentang aturan
B. Membuat peserta pasif mendengar
C. Membantu peserta memahami peran mereka dalam kebijakan
D. Menghemat waktu fasilitasi
✅ Jawaban: C
π Simulasi memberi pengalaman langsung, sehingga
kebijakan lebih mudah dipahami.
23.
Contoh penerapan
fasilitasi dalam PNPM Mandiri adalah…
A. Pemerintah pusat menentukan seluruh program
B. Fasilitator mendampingi desa untuk mengenali masalah dan mengelola dana
C. Hanya Bappenas yang menentukan prioritas
D. Dana langsung diberikan tanpa pendampingan
✅ Jawaban: B
π PNPM sukses karena ada fasilitator yang mendampingi
masyarakat.
24.
Jika dalam FGD hanya
tokoh elit yang bicara, fasilitator sebaiknya menggunakan teknik…
A. Round Robin
B. Fishbone Diagram
C. Storytelling
D. Gallery Walk
✅ Jawaban: A
π Round Robin menjamin semua peserta bicara
secara bergiliran.
25.
Kebijakan pembangunan
nasional menekankan integrasi bottom-up dan top-down. Peran
fasilitasi adalah…
A. Mempercepat pengesahan UU
B. Menjembatani aspirasi masyarakat dengan kebijakan nasional
C. Menentukan APBN langsung di desa
D. Menggantikan evaluasi kinerja
✅ Jawaban: B
π Fasilitasi jadi jembatan integrasi aspirasi
masyarakat dengan arah pembangunan nasional.
26.
Prinsip “Nothing about
us, without us” dalam fasilitasi berarti…
A. Semua kebijakan harus dibuat oleh pusat
B. Tidak boleh ada kebijakan tentang masyarakat tanpa melibatkan mereka
C. Perencanaan cukup dilakukan teknokrat
D. Partisipasi hanya simbolis
✅ Jawaban: B
π Prinsip inklusi: masyarakat harus dilibatkan
dalam setiap kebijakan yang menyangkut mereka.
27.
Salah satu hambatan
fasilitasi di Musrenbang adalah dominasi kelompok tertentu. Solusi yang tepat
adalah…
A. Membatasi jumlah peserta
B. Menggunakan teknik diskusi partisipatif seperti Metaplan atau Round Robin
C. Mengabaikan kelompok yang vokal
D. Menunda Musrenbang
✅ Jawaban: B
π Teknik partisipatif mencegah dominasi dan
memberi ruang pada semua pihak.
28.
Fasilitasi relevan
dengan RPJMN 2025–2029 terutama karena…
A. RPJMN menekankan efisiensi birokrasi
B. RPJMN menekankan pembangunan inklusif dan partisipatif
C. RPJMN hanya fokus pada digitalisasi
D. RPJMN menghapus peran daerah
✅ Jawaban: B
π RPJMN 2025–2029 menekankan pembangunan
inklusif, sehingga fasilitasi jadi krusial.
29.
Teknik ice breaking
dalam Musrenbang berguna untuk…
A. Memilih program prioritas
B. Mencairkan suasana agar peserta siap berdiskusi
C. Menentukan jadwal rapat
D. Menghemat waktu perencanaan
✅ Jawaban: B
π Ice breaking membantu peserta lebih rileks dan
siap untuk diskusi partisipatif.
30.
Mengapa fasilitasi
dianggap sebagai jantung partisipasi pembangunan?
A. Karena fasilitator yang membuat semua keputusan
B. Karena fasilitasi membuat masyarakat merasa dilibatkan, didengar, dan
berdaya
C. Karena fasilitasi lebih cepat dari perencanaan teknokratis
D. Karena fasilitasi menggantikan RPJMN
✅ Jawaban: B
π Fasilitasi menjamin keterlibatan nyata
masyarakat, sehingga hasil pembangunan lebih berkelanjutan.
π 10 Soal Latihan Esai
1.
Soal:
Bagaimana teknik fasilitasi partisipatif dapat meningkatkan kualitas Musrenbang
Desa dalam konteks no one left behind pada pencapaian SDGs di Indonesia?
Jawaban:
Fasilitasi partisipatif (metaplan, round robin, gallery walk) memberi ruang
bagi kelompok rentan (perempuan, pemuda, difabel) untuk menyampaikan aspirasi.
Hal ini memastikan program pembangunan desa tidak hanya berpihak pada kelompok
dominan, tetapi juga menjawab kebutuhan kelompok marjinal.
Penjelasan:
Tanpa fasilitasi, Musrenbang rawan didominasi elit desa. Dengan fasilitasi,
prinsip SDGs no one left behind bisa terwujud, sejalan dengan kebijakan
pembangunan inklusif dalam RPJMN 2025–2029.
2.
Soal:
Jelaskan peran fasilitator dalam menjembatani aspirasi masyarakat dengan
kebijakan teknokratis pemerintah pusat, khususnya dalam konteks penyusunan
RPJMN 2025–2029.
Jawaban:
Fasilitator berperan mengumpulkan aspirasi lokal melalui Musrenbang, FGD, dan
konsultasi publik, lalu menyusunnya dalam bentuk yang dapat dipahami perencana
teknokratis di Bappenas. Fasilitator memastikan isu lapangan (misalnya krisis
air, konektivitas desa) terintegrasi dengan prioritas nasional.
Penjelasan:
Fasilitasi menjadi jembatan bottom-up planning dan top-down planning
dalam Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (UU 25/2004).
3.
Soal:
Kasus: Banyak Musrenbang Kabupaten hanya menjadi formalitas karena usulan
masyarakat tidak sinkron dengan APBD. Bagaimana teknik fasilitasi dapat
memperbaiki masalah ini?
Jawaban:
Fasilitator perlu menggunakan teknik prioritization matrix untuk
menyelaraskan usulan masyarakat dengan keterbatasan fiskal daerah. Melalui
diskusi terbuka, masyarakat memahami batasan anggaran, dan bersama-sama
menentukan 3–5 prioritas realistis yang bisa masuk APBD.
Penjelasan:
Teknik fasilitasi bukan hanya menampung aspirasi, tapi juga mendidik masyarakat
tentang keterbatasan fiskal, sehingga usulan lebih sinkron.
4.
Soal:
Bagaimana fasilitasi dapat mendukung kebijakan percepatan penurunan stunting di
Indonesia?
Jawaban:
Fasilitasi FGD dengan masyarakat membantu mengidentifikasi faktor lokal
penyebab stunting (gizi, air bersih, sanitasi, pendidikan). Dengan fishbone
diagram, masyarakat dan pemerintah daerah bisa bersama-sama menyusun solusi
berbasis lokal, misalnya penyediaan jamban sehat atau posyandu gizi.
Penjelasan:
Kebijakan penurunan stunting dalam RPJMN tidak cukup top-down, perlu fasilitasi
agar solusi sesuai konteks lokal.
5.
Soal:
Dalam konteks transisi energi hijau di Indonesia, bagaimana fasilitasi dapat
membantu masyarakat menerima kebijakan pengurangan penggunaan batu bara?
Jawaban:
Fasilitasi sosialisasi dengan metode storytelling dan role play
membuat masyarakat memahami manfaat energi hijau (kesehatan, lingkungan,
peluang kerja baru). Dengan simulasi, masyarakat dapat membayangkan peran
mereka dalam transisi energi.
Penjelasan:
Tanpa fasilitasi, kebijakan transisi energi berisiko ditolak karena dianggap
memberatkan. Dengan fasilitasi, resistensi bisa dikurangi.
6.
Soal:
Apa tantangan fasilitasi dalam penerapan Satu Data Indonesia di daerah,
dan bagaimana solusi fasilitatifnya?
Jawaban:
Tantangan: rendahnya literasi data masyarakat dan keterbatasan akses teknologi.
Solusi: fasilitator menggunakan metode visualisasi (peta, infografis) dalam
sosialisasi, serta workshop sederhana agar perangkat daerah dan masyarakat
mampu memanfaatkan data.
Penjelasan:
Fasilitasi menjembatani gap digital, sehingga Satu Data Indonesia
benar-benar dipakai, bukan sekadar dokumen.
7.
Soal:
Bagaimana teknik fasilitasi dapat membantu integrasi pembangunan tematik
(perempuan, anak, difabel) dalam Musrenbang daerah?
Jawaban:
Fasilitator menggunakan teknik round robin agar semua kelompok rentan
bicara, serta gallery walk untuk menampung aspirasi khusus. Hasilnya
bisa dipisahkan dalam Musrenbang Tematik dan disinergikan dengan Musrenbang
umum.
Penjelasan:
Hal ini mendukung arah kebijakan RPJMN tentang pembangunan inklusif dan SDGs
Goal 5 (kesetaraan gender) dan Goal 10 (mengurangi ketimpangan).
8.
Soal:
Bagaimana fasilitasi dapat memperbaiki efektivitas dana desa yang sering
digunakan untuk infrastruktur fisik saja?
Jawaban:
Fasilitator perlu mendorong masyarakat melakukan brainstorming atas
prioritas non-fisik, seperti pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, dan
program kesehatan. Dengan metaplan, masyarakat dapat melihat alternatif
pemanfaatan dana desa selain fisik.
Penjelasan:
Tanpa fasilitasi, desa cenderung memilih infrastruktur karena terlihat nyata.
Fasilitasi membuka wawasan ke arah pembangunan manusia.
9.
Soal:
Bagaimana fasilitasi membantu integrasi kebijakan pusat terkait pengurangan
kemiskinan ekstrem dengan kondisi lokal di daerah tertinggal?
Jawaban:
Fasilitator mengadakan FGD dengan pendekatan problem posing, menggali kondisi
spesifik kemiskinan lokal (akses transportasi, lapangan kerja, harga pangan).
Hasil FGD kemudian dijadikan masukan agar program pusat (bantuan sosial,
subsidi) tepat sasaran.
Penjelasan:
Kemiskinan ekstrem berbeda penyebab di tiap daerah. Fasilitasi membuat
kebijakan pusat lebih kontekstual.
10.
Soal:
Analisis kasus: Pada program pembangunan pelabuhan kecil di wilayah timur
Indonesia, masyarakat menolak karena takut kehilangan akses ke laut. Bagaimana
fasilitasi bisa menjadi solusi?
Jawaban:
Fasilitator mengadakan pertemuan dialogis, menjelaskan manfaat pelabuhan, dan
mendengarkan kekhawatiran masyarakat. Teknik storytelling dengan contoh
pelabuhan sukses di daerah lain digunakan, lalu bersama-sama menyusun mitigasi
dampak sosial (misalnya area khusus nelayan tetap disediakan).
Penjelasan:
Fasilitasi mengubah resistensi menjadi partisipasi, sehingga pembangunan
infrastruktur berjalan berkelanjutan.
No comments:
Post a Comment